Arsip Blog

Kajian.Net
Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah

Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah NII Milik Kartosuwiryo

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 30 April 2011 | 10.03

Melihat media masa atau media cetak sekarang ini tentu sudah tidak aneh lagi bagi mata dan telinga kita tentang berita yang ditayangkan, yaitu tidak lain mengenai masalah NII. Dan saya tertarik untuk mengetahui apa itu NII siapa pemilik atau pendiri NII itu sendiri, sampai saya menemukan sebuah artikel dari http://agfian.wordpress.com 




Kembali Melihat Sejarah NII Milik Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo Dari Berbagai Sudut

• Sekilas Tentang SM Kartosuwiryo
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo atau yang biasa disebut SM Kartosuwiryo mungkin bukanlah orang yang asing bagi kita, terutama para sejarawan pasti sangat mengenal beliau. Karena itu, di sini saya tidak akan membahas SM Kartosuwiryo terlalu panjang, melainkan hanya menyentuh pada bagian-bagian yang mungkin mempunyai pengaruh dalam karir politiknya di NII atau DI/TII.
Kartosuwiryo Memulai karirnya di Serikat Dagang Islam (SDI), lalu melanjutkannya di Serikat Islam (SI), dan setelah itu beliau mengikuti Partai Islam Indonesia (PII), Masyumi, baru akhirnya membentuk DI/TII.
jadi, sebenarnya perjalanan Kartosuwiryo untuk membentuk DI/TII itu bukanlah sesuatu yang instan dan terjadi begitu saja. Beliau bukannya bangun dari tidurnya disuatu pagi dan langsung berpikir, ”Aku akan membentuk negara Islam!”, melainkan hasil dari pemikiran dan pertimbangan beliau yang menyatukan antara otak cerdasnya dan pemahaman agamanya yang memang dalam. Dan itu adalah cita-cita yang sudah ada sejak lama dari dalam dirinya.
Kartosuwiryo juga terkenal tidak pernah akur –kalau tidak mau dibilang benci- dengan Soekarno. Salah satu kata-katanya yang terkenal dan paling pas untuk menggambarkan kebenciannya adalah pada saat beliau sudah tertangkap dan dipenjara, lalu dijatuhi hukuman mati, lalu Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab,” Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno”.
Dan menurut saya, hanya itu saja pengenalan terhadap Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, karena jika kita terus membahasnya maka tidak akan ada habisnya cerita tentang SM Kartosuwiryo.
• NII
Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI)yang artinya Rumah Islam adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (12 Sjawal 1368) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di di desa Cisampah, kecamatan Ciawiligar, kawedanan Cisayong Tasikmalaya, Jawa Barat.
Gerakan ini bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits”. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk memproduk undang-undang yang berlandaskan syari’at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur’an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan “hukum kafir”, sesuai dalam Qur’aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 145.
Gerakan ini juga bahkan mempunyai proklamasi sendiri, yang tidak terlalu jauh berbeda dengan proklamasi RI pada tanggal 17 Agustus 1945, isinya adalah,
PROKLAMASI
Berdirinja NEGARA ISLAM INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim Asjhadoe anla ilaha illallah wa asjhadoe anna Moehammadar Rasoeloellah
Kami, Oemmat Islam Bangsa Indonesia MENJATAKAN:
Berdirinja ,,NEGARA ISLAM INDONESIA”
Maka hoekoem jang berlakoe atas Negara Islam Indonesia itoe, ialah: HOEKOEM ISLAM
Allahoe Akbar! Allahoe Akbar! Allahoe Akbar!

Atas nama Oemmat Islam Bangsa Indonesia
Imam NEGARA ISLAM INDONESIA
Ttd
(S M KARTOSOEWIRJO)
MADINAH-INDONESIA, 12 Sjawal 1368 / 7 Agoestoes 1949
• Kisah NII dari Berbagai Sumber, Mana Yang Benar?
Setelah kita membahas latar belakang dari NII maupun pendirinya, yaitu SM Kartosuwiryo, sekarang kita tiba pada bagian yang menurut saya adalah bagian inti dari paper saya ini.
Kisah dari sumber yang pertama, tentulah sangat kita kenal. Selain itu dikarenakan adalah berita resmi dari pemerintah juga karena cerita tentang NII itu dijadikan masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah dan tertulis di buku-buku pelajaran sejarah. Ya, cerita ini bersumber dari pemerintah, baik orde lama ataupun orde baru.
Dalam kisah garis besarnya, mereka mengatakan bahwa NII adalah sebuah gerakan pemberontak yang berpotensi menghancurkan keutuhan bangsa Indonesia. Gerakan pemberontakan yang tidak terlalu jauh beda dengan pemberontakan Ratu Adil, dan bahkan PKI. Gerakan ini disebut sebagai gerakan terlarang dan sesat. Dan dari sumber dan sudut ini pun, cerita dan data tentang Kartosuwirto banyak yang dihilangkan, guna menjauhkan ingatan masyarakat terhadap Kartosuwiryo dan gerakannya.
Itulah beberapa hal penting dari sudut pandang yang pertama mengenai NII. Karena saya yakin pandangan ini sudah banyak kita ketahui. ( karena mungkin waktu SMA dulu kita harus menghapalnya untuk mendapat nilai 9 di rapot)
Lalu selanjutnya adalah sudut pandang yang kedua, yang berbeda 180 derajat dibanding sudut pandang yang pertama. Sudut pandang yang kedua ini saya dapat dari buku Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Isalam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, karangan dari Al Chaidar. Dan juga sebuah situs beralamatkan () .
Di situ, kisah tentang NII ternyata sangatlah berbeda dari sudut pandang yang pertama / pemerintah. Dalam pandangan mereka, NII adalah sebuah gerakan suci yang tidak hanya mementingkan nafsu dan impian serta ambisi dari SM Kartosuwiryo semata. Bahkan, disebutkan didalamnya bahwa gerakan NII yang dibentuk oleh SM Kartosuwiryo itu adalah sebuah gerakan yang menyelamatkan kedaulatan daripada NKRI dihadapan imperialis Belanda dan Dunia. Karena, pasca perjanjian renville pada tahun 1949 yang berakibat daerah kekuasaan Indonesia hanya meliputi Jogja dan sekitarnya – dan itupun masih dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia- sehingga kekuasaan NKRI saat itu nyaris tidak ada dan hanya berbentuk negara-negara serikat saja, dimana saat itu Soekarno hanya bisa memerintahkan rakyat Indonesia untuk pindah dan mengungsi –walaupun dalam pidatonya, Soekarno mengatakan bahwa itu adalah ”hijrah”- NII dan Kartosuwiryo justru bertahan dan berusaha mempertahankan wilayah Jawa Barat. Kartosuwiryo bahkan menyebut Soekarno dan pengikutnya adalah pasukan liar yang kabur dari medan perang. –walaupun dalam lanjutannya, pindahnya Soekarno ke Jogjakarta adalah awal terbentuknya kampus UGM yang tercinta ini-. Dan dengan menggunakan metode hijrah milik Kartosuwiryo yang non cooperative terhadap Belanda, akhirnya NII diproklamasikan di bawah bendera ”Bismillahirrahmaanirrahiim”. Namun, dalam proklamasi itu, menurut mereka (para penulis blog, red) jika kita tidak memperhatikan rentetan sejarah yang terjadi, maka kita pasti akan menyangka bahwa NII adalah negara yang berdiri di dalam negara.
Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.
Jadi, sangat jelas sekali bukan perbedaan antara dua sudut pandang itu? Bahkan, sudut pandang kedua mengatakan dengan lantang bahwa cerita mengenai NII yang dikeluarkan oleh pemerintah dan terdapat dalam buku-buku pelajaran sejarah yang kita pelajari adalah sebuah kebohongan publik. Sebuah bentuk kedzaliman dari pemerintah Orla dan Orba terhadap Kartosuwiryo.
Dan setelah kita mendengar dan membaca dua cerita, pendapat dan sudut pandang dari kedua sumber tadi, manakah yang paling benar? Sebenarnya, pertanyaan itu cukup sulit dijawab. Walaupun saya mengakui bahwa saya agak condong percaya pada sumber kedua, karena selain teori mereka yang cukup masuk akal di otak saya, namun saya tidak bisa mengatakan bahwa pendapat kedua adalah yang paling benar. Alasannya jelas, yang mengemukakan pendapat kedua adalah seorang masyarakat awam yang menampilkan pemikirannya di blog pribadi yang tentunya kebenarannya tidak dapt kita percaya begitu saja. Bandingkan dengan pemerintah, walaupun secara teori agak lemah, tapi mereka adalah orang yang berkuasa pada zaman itu. Mampu mendapat sumber dari manapun di negeri ini, dan walau bagaimanapun juga, mereka adalah founding father yang sah di negeri kita ini Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jadi, jika anda berharap mendapat jawaban tentang pendapat yang terbaik dari paper saya ini, saya dengan menyesal mengatakan tidak akan bisa. Itu adalah sebuah masalah negara yang cukup besar dan berpotensi menimbulkan polemik. Kapasitas saya yang ”hanya” seorang mahasiswa semester 1 jelas tidak mencukupi untuk menjawabnya. Saya sebenarnya bisa menjawabnya, namun pada akhirnya jawaban yang saya keluarkan hanyalah sebuah jawaban pribadi yang emosional dengan pemahaman yang dangkal, tidak cukup untuk referensi siapapun. Saya rasa.
• Pengaruh Kisah NII Bagi Politik dan Pemerintahan Indonesia Sekarang
Sepertinya sudah terlalu banyak kita membahas tentang perbedaan versi cerita tentang NII. Karena itu, dalam bagian ini saya tidak akan menyertakan sudut pandang yang kedua –yang membela NII- sebagai perhitungan. Alasannya jelas, sebagian masyarakat Indonesia hanya mengetahui sudut pandang yang pertama saja. Sehingga otomatis, hanya sudut pandang yang pertama saja yang bisa kita analisa pengaruhnya. Dan perlu diketahui, ini bukanlah pengaruh NII melainkan pengaruh kisah NII saja.
Menurut saya, secara garis besar NII sudah menimbulkan dua masalah besar pada politik di Indonesia. Dan mencakup dua ruang, yaitu politik antara islam dengan sekuler dan antara islam dengan islam. Yang semuanya memojokkan islam.
Yang pertama, antara islam dengan sekuler. Tentunya kita tahu, dengan begitu seringnya kita mendengar berita yang menjelek-jelekkan Kartosuwiryo dan NIInya seringkali dijadikan senjata oleh para kaum sekuler untuk melawan superioritas islam dalam jumlah pengikut. Dan yang lebih parah lagi, seringkali para partai islam sendiri juga menjadi merasa takut untuk mengibarkan panji-panji islamnya dengan lantang. Seringkali mereka alergi terhadap yang namanya negara dengan azaz islam. Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: “Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami”. Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: “Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan”. Sebuah ketakutan yang memalukan saya rasa. Negara yang islami namun tidak islam? Bagaimana ada orang yang berpikir seperti itu. Ibaratnya adalah sifat alami yang tidak berasal dari alam. Jadi jelas, islam adalah syarat untuk menjadi islami.
Dan yang kedua, antara islam dengan islam lainnya. Ini sungguh sangat memilukan bagi saya. Bagaimana tidak? Sesama saudara muslim ternyata dapat terpecah belah hanya karena cerita ”mengerikan” tentang NII dan Kartosuwiryo yang begitu menakutkan. Sungguh sebuah ironi melihatnya.
Akan tetapi memang begitulah kenyataannya. Para umat islam di Indonesia yang sudah terpecah belah makin diperkuat oleh adanya kasus NII ini. Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : “Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari’at Islam”. (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : “Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme”. Wow, bukan main terkejutnya saya mendengar pernyataan dari Gusdur soal itu. Bagaimana dengan anda?
Jadi sudah sangat jelas bukan, bahwa cerita sejarah tentang NII yang kebanyakan diketahui oleh bangsa Indonesia jaman sekarang ini telah benar-benar merugikan kaum muslimin. Terutama di bidang politik dan pemerintahan.
• Bagaimana Kita Mensikapi NII
Dan akhirnya, kita sampai bagian yang lebih mirip dengan kesimpulan ini. Di sini saya akan memberikan sedikit anjuran dan saran untuk pembaca semua dari kacamata seorang anak mahasiswa muslim Indonesia. Bukan sekuler ataupun lajur kanan ekstrim. Tapi hanya orang awam yang mendapat sedikit keberuntungan untuk mendapat sudut pandang akademis saja.
Dan menurut saya, dalam mensikapi berita yang penuh polemik dan kontroversi seperti NII ini, kita harus selalu tenang. Kita analisa dengan otak kita bukan dengan emosi dan nafsu kita. Karena yang kritis seperti ini tidak dapat kita analisa dengan sekali waktu saja. Melainkan harus dengan penelitian dan pencarian. Jika analisa kita yan gpertama langsung kita jadikan pijakan maka sebenarnya analisa kita itu hanyalah hasil dari emosi sesaat. Karena itulah, kita harus merenung dan memikirkannya berulang kali sebelum mengambil kesimpulan akhir. Jadi kalau begitu analisa kita yang pertama itu hanyalah sampah yang tak berguna dan bau?? Menurut saya tidak juga, analisa kita yang pertama itu bisa kita jadikan hipotesis atau analisa sementara. Boleh kita percayai, namun tidak seratus persen.
Dan saya, setelah merenungkan dan memikirkan tentang permasalahan ini lalu membuat kesimpulan yang boleh anda terima maupun anda tolak.
Kesimpulan dan saran saya dalam permasalahan NII ini adalah bahwa sebenarnya NII untuk saat ini memang tidak mungkin untuk dijalankan di Indonesia. Saya mengatakan ini bukan karena saya adalah seorang sekuler, saya orang islam dan berharap suatu saat nanti akan tercipta negara Indonesia yang berasaskan islam, karena Indonesia memang sebagian besar warganya adalah orang islam. Tapi alasan saya lebih karena melihat kondisi masyarakat yang ada di Indonesia saat ini yang kebanyakan muslimnya hanya muslim KTP. (walaupun saya juga belum tentu tidak termasuk di dalamnya).
Saya mempunyai contoh konkritnya. Dulu SMA saya adalah SMA Al-Islam 1 Surakarta. Dan di situ ada satu peraturan yang menurut saya paling kontroversial di SMA itu, dan tak pernah luput dari bahan pembicaraan murid, guru, dan karyawan di sana. Peraturan itu adalah larangan bagi setiap pria di sekolah itu untuk memakai celana yang panjangnya melebihi mata kaki. Dasar bagi guru yang mengesahkan peraturan itu menjadi peraturan sekolah adalah hadist dari Rasulullah SAW yang memang melarang pria untuk memakai celana yang ”ngelembreh”. Dan ternyata, walaupun sudah disahkan menjadi peraturan sekolah, masih tetap saja ada banyak pria yang melanggarnya, bahkan di kalangan guru dan karyawan sendiri. Jadi bukankah ini bukti bahwa seluruh aturan islam masih sulit diterima oleh masyarakat Indonesia? Padahal itu hanyalah ruang lingkup yangkecil, yaitu sebuah SMA dengan peraturan yang ssederhana pula. Dan kita tahu bahwa Indonesia lebih luas daripada itu dan peraturan islam juga lebih banyak daripada itu.

Tapi perlu diingat oleh pembaca sekalian. Bahwa apa yang dikatakan tidak mungkin oleh manusia rendah lagi bodoh seperti saya itu bisa jadi sangat mungkin dihadapan Allah SWT.
Demikian paper yang dapat saya buat mengenai NII, sejarah, dan pengaruhnya. Semoga bermanfaat. source : http://agfian.wordpress.com 
10.03 | 8 komentar | Read More

sejarah membuktikan “islam ada di amerika jauh sebelum colombus”

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 06 April 2011 | 08.57


Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.






Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.


Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)



Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?


Sejarahnya panjang,

Semangat orang-orang 
Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islammendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.


Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli 
sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan 
sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang 
Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli 
sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan 
Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu..


Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang 
Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

sumber : http://cahyaiman.wordpress.com/2010/08/05/fakta-sejarah-membuktikan-islam-ada-di-amerika-jauh-sebelum-colombus/
08.57 | 0 komentar | Read More