Arsip Blog


Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net

RUKUN IMAN MENURUT AL-FIRQAH AN-NAJIYAH

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 14 November 2011 | 04.45

1. Iman Kepada Allah Ta'ala Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu; Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya; Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan; serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.[1]

2. Iman Kepada Para Malaikat Allah Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil, (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).[2]

04.45 | 2 komentar | Read More

SEJARAH HITAM PERPECAHAN UMAT

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 22 Juli 2011 | 23.03


Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah perpecahan umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan sejarah perpecahan itu secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru sebagian orang sekitar masalah tersebut dewasa ini.



Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum mmuslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengahtengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutan hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka. Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang menyelisihi asas Islam dan Sunnah.

Adapun kelompok sempalan yang pertama kali muncul yang memisahkan diri dari imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba'iyah. Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua kelompok utama : Khawarij dan Syi'ah.

Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun dasar-dasar pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun Syi'ah muncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu. Fitnah diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide, keyakinan dan gerakannya. Dari situlah muncrat aqidah sesat, yaitu aqidah Syi'ah dan Khawarij.

Perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah direkayasa sedemikian rupa oleh tokoh tokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba' dan konco-konconya menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum muslimin, yakni dengan istilah yang mereka namakan blok kanan dan blok kiri. Mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program, mereka munculkan babak
permainan baru dengan istilah sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif,  ekstrimisme, radikalisme dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari sumber yang sama pula. Para pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya, hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara keseluruhan ini mencerminkan kuatnya kebatilan, kendati satu sama lain saling bermusuhan.

Kedua.
Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak kita temui para sahabat saling berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi diantara mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan dengan ijma' (kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat jama'ah serta tetap komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan sahabat.

Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan diri dari jama'ah. Tidak ada satupun diantara mereka yang melontarkan ucapan bid'ah atau mengada-ada perkara baru dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan imam dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satupun dari kalangan sahabat yang memecah dari jama'ah. Dan tak satupun ucapan mereka yang menjadi sumber bid'ah dan sumber perpecahan. Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan kebohongan besar yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat keliru bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi'ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda' dituduh sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid'ah dan perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal! Jelas itu semua merupakan
kebatilan murni! [[1]]

Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan Umar Radhiyallahu 'anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan. Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi!

[1] Termasuk di antara kebatilan tersebut ialah klaim sebagian kaum sufi bahwa asal-usul bid'ah mereka adalah para shabat Ahlu Suffah Radhiyallahu anhu ajma'in. Sekali-kali tidak demikian ! Bahkan sebaliknya, kita katakan kepada mereka, "Teladanilah sunnah sahabat Ahlus Suffah tersebut jika kalian orang-orang yang benar!".
23.03 | 3 komentar | Read More

Kecantikan Dalam Pandangan Islam

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 06 Juni 2011 | 00.54


Kata-kata cantik identik dengan perempuan. Mereka selalu ingin dibilang cantik. Karena mayoritas perempuan harus tampil cantik. Kenapa demikian? Karena Allah juga menyukai kecantikan dan membenci keburukan.
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai yang indah, murah hati dan menyukai kemurahatian, menyukai akhlak yang luhur dan membenci akhlak yang rendah.” (HR. Al-Baihaqi)
Tapi apa sebenarnya arti cantik itu?
Banyak orang yang salah mengartikan kata cantik. Mereka beranggapan cewek cantik itu adalah cewek yang punya body sexy, wajah cantik, rambut panjang, kulit mulus, dsb. Kalau setiap orang mengartikan demikian, berarti setiap orang juga memiliki definisi dan pendapat yang berbeda juga. Dan cenderung menimbulkan pendapat yang subyektif. Menurut si A cewek itu cantik, tapi menurut si B belum tentu.Karena mereka menilai kecantikan dari segi fisik saja.
Islam memandang kecantikan itu berdasakan pada dua unsur jasmani dan rohani. Karena itulah penilaian kecantikan harus didasarkan pada dua unsur tersebut. Jadi, kalau ada yang menilai sebuah kecantikan hanya dari unsur fisik saja berarti penilaian tersebut adalah sebuah kepalsuan. Itu karena di dunia ini tidak ada yang kekal, pada akhirnya semua akan hilang seiring berjalannya waktu. Misalnya ada seorang model yang cantik luar biasa dan seksi. Memang benar sekarang dengan kecantikan model itu banyak orang yang tergila-gila dan menyanjungnya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, model tersebut akan kehilangan kecantikannya karena faktor usia. Nah, disini apakah model tersebut tetap akan jadi idola bagi orang-orang yang menyanjungnya dulu?
Sekarang jika kita bandingkan dengan penilaian kecantikan menurut Islam dengan berdasarkan pada dua unsur jasmani dan rohani. Sebagai contoh ada seorang cewek yang biasa saja dan tidak suka dandan, dia lebih suka tampil apa adanya, dia juga mempunyai akhlak yang baik, shalehah dan mengerti ilmu agama. Walaupun wajahnya tidak secantik dan seseksi artis ternama tapi akhlaknya mulia. Kita bayangkan sekarang betapa beruntungnya cowok yang bisa mendapatkan cewek muslimah tersebut. Jadi kesimpulannya kita tidak bisa menilai kecantikan seseorang hanya dari segi fisiknya saja. Karena sesungguhnya kecantikan sejati itu terletak di dalam hati yang bersih dan akhlak yang mulia.

00.54 | 14 komentar | Read More

Sukses Butuh Kesabaran

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 11 Mei 2011 | 10.52

Belakangan ini sifat sabar mulai terkikis dari hati manusia. Apalagi di jaman teknologi yang serba cepat, orang sering kehilangan kesabaran. Perhatikanlah ketika mereka di jalanan. Semuanya ingin terdepan dan tak memberi kesempatan orang lain untuk mendahului mobilnya. Ketika jalanan macet dan ada ruang kosong, masing-masing orang ingin mmengisi kekosongan jalan itu. Dan akibat dari sikap tak sabar justru kondisi jalan menjadi macet total.

Kita telah terpengaruh oleh keadaan yang serba cepat, segala sesuatu selalu dilakukan dengan tergesa-gesa. Padahal hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa hasilnya tidak akan memuaskan. Untuk mencapai puncak tangga, kita harus menaiki dari anak tangga yang paling bawah. Jika kita tidak sabar dan melompati beberapa anak tangga agar cepat sampai ke puncak, justru kekonyolan yang kita alami. Kita akan terjatuh karena gagal.

Sukses butuh waktu dan kesabaran. Semua yang ada di dunia ini berlaku sunnatullah. Allah sendiri mencontohkan bagaimana ia menciptakan bumi yang tidak sekali jadi. Padahal Dia memiliki kemampuan “kun fayakun”. Namun Ia ingin mengajarkan kepada manusia bahwa di dunia ini segala sesuatunya tidak sekali jadi.

Allah menjelaskan dalam surat Fushilat ayat 10 – 12, yang artinya :

“Dan Dia menciptakan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushilat : 10 – 12)

Begitulah, setiap penciptaan sesuatu butuh waktu dan kesabaran. Allah menciptakan langit dan bumi dalam empat tahap (masa). Menurut sebagian ulama menafsiri empat masa itu sama dengan enam hari. Ini sebagai bukti ide yang besar untuk mengilhami kita bahwa sukses itu butuh tahapan-tahapan dan harus dilalui dengan sabar (kerja keras).

Kejayaan Islam dibangun atas dasar kesabaran. Tanpa kesabaran, barangkali kita tidak menemukan Islam menguasai dunia ini. Betapa ketika Rasulullah SAW memulai berdakwah menyampaikan kebenaran, ia melakukannya dengan sabar. Merencanakan dengan strategi yang matang. Bukankah sebuah rencana strategi itu bagian dari kesabaran. Rasulullah pernah bersabda : “Tidak seorang pun dianugerahi sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih banyak dibandingkan kesabaran.” (HR. Bukhari)

Seringkali kita memandang orang sukses dengan persepsi salah. Apa yang terlintas di benak ini hanyalah wujud kesuksesan itu. Kita lalu berkata pada diri sendiri, “Tak mungkin aku bisa seperti dia.” Padahal jika kita tahu perjalanan yang ditempuh, ia seringkali jatuh bangun dan gagal. Karenanya jika kita ingin mengikuti jejak sukses mereka, sebaiknya jangan segan-segan untuk bertanya.

Tidak ada kebahagiaan datang secara tiba-tiba tanpa perjuangan yang harus dilalui. Allah menjanjikan akan memberikan kebahagiaan apabila kita bersabar dalam menghadapi ujian hidup. Janji Allah itu terdapat dalam Surat Az-Zumar ayat 10. Kesabaran akan membuat kita menjadi orang terdepan di antara yang lainnya. Sesungguhnya kemenangan itu hanya bisa didapatkan karena kesabaran. 

by:BA
10.52 | 7 komentar | Read More

Definisi Dan Pengertian Khusyu

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 10 Mei 2011 | 23.13


Secara Bahasa

Secara bahasa, kata khusyu' memiliki beberapa arti yang sama:
  1. Tunduk, pasrah. merendah atau diam. Artinya mirip dengan kata khudhu'. Hanya saja kata khudhu' lebih sering digunakan untuk anggota badan, sedangkan khusyu' untuk kondisi dan gerak-gerik hati.
  2. Bisa juga berarti rendah perlahan, biasanya digunakan untuk suara. Allah ber rman: "Dan (khusyu') merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar melainkan bisikan saja." (Ath-Thaha: 108).
  3. Arti khusyu' juga bisa diam, tak bergerak. Allah ber rman yang artinya: "Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kamu lihat bumi itu diam tak bergerak (ada juga yang mengatakan: tandus-Pent), dan apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur." (Al-Fusshilat: 39)

Menurut Istilah

Khusyu' artinya: kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati.

Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati. Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan kehendak-Nya. 

Adapun pengertian khusyu' di dalam shalat: kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk pasrah di hadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas kepada Allah; sehingga tak memperdulikan hal lain.

Pengertian kusyu' tersebut diambil dari Fir rman Allah sebagaimana tersebut sebelumnya:
"..yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.." (Al-Mukminun: 1-2).

Mengenai makna kekhusyu'an itu, Ibnu Abba's menandaskan: "Artinya penuh takut dan khidmad." Al-Mujahid menyatakan: "Tenang dan tunduk." Sementara Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan: "Yang dimaksud dengan kekhusyu'an di situ adalah kekhusu'an hati."
Lain lagi dengan Hasan al-Bashri, beliau berkata: "Kekhusyu'an mereka itu berawal dari dalam sanubari, lalu terkilas balik ke pandangan mata mereka sehingga mereka menundukkan pandangan mereka dalam shalat."
Imam Atha' pernah berkata:"Khusyu' artinya, tak sedikitpun kita mempermainkan salah satu
anggota tubuh kita."
Jadi artinya, kekhusyu'an dalam shalat bukanlah sekedar kemampuan memaksimalkan konsentrasi sehingga kiran hanya terfokus dalam shalat.
Namun kekusyu'an lebih merupakan kondisi hati yang penuh rasa takut, pasrah, tunduk dan sejenisnya; yang membias dalam setiap gerakan shalat menjadi nampak anggun, khidmat dan tidak serampangan.
23.13 | 1 komentar | Read More