Arsip Blog

Kajian.Net
Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah

Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
Tampilkan postingan dengan label Anak Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Indonesia. Tampilkan semua postingan

Bakat Anak Indonesia Dieksploitasi

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 09 April 2011 | 10.44


Acara bertajuk mencari bakat anak-anak Indonesia sedang menjamur sekarang ini. Hampir semua stasiun TV berlomba-lomba menggelar acara yang mirip satu sama lain. Indonesia Mencari Bakat yang diselenggarakan oleh Trans TV muncul lebih dulu dan menyedot banyak perhatian permirsa. Tak lama kemudian, nongol Indonesia’s Got Talent, sebuah acara yang mendapat lisensi dari Fremantle Media. Isinya persis plek dengan America’s Got Talent, Britain’s Got Talent, dll.
Setelah era AFI, Indonesian Idol dan dan beberapa acara sejenis namun kurang tenar berlalu, muncul yang namanya Mama Mia dan hal-hal yang ber’bau’ anak dan mama. Kemudian, muncullah ajang pencarian bakat baik yang memakai judul bahasa Indonesia ataupun yang menjiplak plek dari bahasa aslinya yaitu bahasa Inggris. Tapi intinya sama saja, mengekor kreativitas dari negara yang dianggap lebih daripada dirinya sendiri.
Masyarakat Indonesia pun terlena, mulai dari anak kecil hingga dewasa bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak serta kakek-nenek pada mantengin acara pencarian bakat ini. Semua punya jago masing-masing. Ada yang milih Hudson, penyanyi ‘transgender’ alias separuh laki-laki dan separuh perempuan. Ada juga yang ngefans berat dengan Brandon, si kecil yang lincah kayak bola bekel. Lalu ada juga yang berada di pihak Putri, si penyanyi seriosa atau bahkan Klanthink, grup pemusik jalanan yang bisa eksis hingga tahap final.
Sebagai seorang muslim yang cerdas, gimana sih kita menyikapi semua ajang pencarian bakat seperti ini? Apa iya kita kudu mantengin aksi-aksi mereka setiap tampil di TV terus ikut-ikutan kirim polling SMS? Atau kita sama sekali anti terhadap tayangan sejenis dan tak mau tahu sama sekali tentangnya? Hmm…gimana ya enaknya. Yuk kita bahas satu demi satu.
Tambang uang kapitalisme
Semua acara audisi yang mengeksploitasi kemampuan diri apalagi body (baca: tubuh), bertujuan UUD (Ujung-Ujungnya Duit) juga. Masyarakat yang gampang dibuat tersihir oleh tayangan TV adalah mangsa yang empuk untuk menggali tambang uang ini. Mereka enggan beranjak apalagi ketika jagoannya lolos dari eliminasi. Karena itu, si pembawa acara tak bosan-bosannya mengajak pemirsa untuk terus mengirim SMS dukungan agar idolanya tidak berada di level terendah perolehan SMS.
SMS ini tarifnya premium alias kalo bahasa awamnya sih, MAHAL. Normal SMS kan tarifnya sekitar 100-150 rupiah sekali kirim. Kalo tarif lomba-lomba beginian biayanya 2000 rupiah. Coba kamu kalikan nilai ini dengan 1000 orang yang mengirim SMS, dan satu orang mengirim nggak hanya sekali tapi bisa 10 kali misalnya. Berhubung jumlah masyarakat Indonesia sekitar 200 juta lebih, 1% saja mengirim, wow….akan didapati jumlah yang sangat fantastis hanya dari perolehan SMS.
Perolehan iklan bagaimana? Ini juga tak kalah fantastis dan bombastis jumlahnya. Hitung saja jumlah iklan setiap jeda penampilan dan kalikan berapa kali jeda selama acara tersebut ditayangkan. Padahal sekali tampil suatu iklan, nilai nominalnya lumayan mahal juga lho. Itungannya per detik dan tergantung ditaruh di prime time (waktu utama) atau bukan. Kalo nggak salah di waktu biasa aja, pagi menjelang siang, per 15 detiknya bisa 30 juta lho. Kalo 30 detik yang 60 juta. Itu sekali tayang. Kalo sehari sampe 10 kali tayang? Lebih dari setengah M. Belum lagi produksi iklannya yang bisa mencapai ratusan juta karena harus ngurus ijin, menggunakan jasa selebriti dan sebagainya. Pasti deh langsung pusing karena mikirin duitnya. Gimana nggak, kalo uang sebanyak itu kita cuma bisa menghitung di atas kertas tanpa pernah punya sendiri.
So, gimana dengan bakat dari para pelaku entertainer itu sendiri ya? Beberapa bakat anak bangsa yang diaudisi sudah diseleksi, sekarang bagaimana dengan bakat mereka sendiri untuk menampilkan karya anak bangsa yang kreatif? Kenapa juga harus menjiplak terus pada program sejenis dari mancanegara? Indonesia adalah megara ke-35 yang menjadi pemegang izin terselenggaranya acara serupa. Semua ini tak lebih hanya sekadar mencari formulasi baru agar masyarakat Indonesia tetap keranjingan TV.
Wanted: bakat dunia akhirat
Bukan maksud ikut-ikutan acara audisi pencarian bakat seperti di TV swasta itu. Tapi di sini kita semua diajak mikir, apakah tak ada bakat lainnya yang dimiliki oleh anak Indonesia selain dari joged dan nyanyi? Hampir semua peserta menampilkan kebolehan dirinya di bidang ini. Mengapa pula tak ada ajang pencarian bakat yang menyaring anak-anak hebat bukan hanya berdimensi dunia tapi juga akhirat?
Acara Laptop si Unyil pernah menampilkan sosok tiga bersaudara yang hafidz alias penghafal al-Quran. Usia mereka di bawah 10 tahun dan hidup dalam kondisi sangat sederhana. Anak-anak ini adalah anak-anak hebat yang ‘bakatnya’ (baca: potensinya) sangat susah dicari tandingannya di zaman yang semua serba matrealistis ini. Tapi adakah yang peduli dengan kehebatan anak Indonesia yang model begini?
Orang-orang, baik pemirsa TV, pemilik TV, penggiat TV mulai dari produser, sutradara, penata acara, dll cenderung lebih suka anak-anak Indonesia yang terlihat glamour daripada sosok yang bersahaja namun jelas-jelas berprestasi. Bukan hanya bakat, tapi kecemerlangan otak telah dimiliki oleh anak-anak yang hafal al-Quran ini. Hanya orang-orang dan anak-anak yang ‘bersih’ dan cemerlang daya pikirnya saja yang bisa mencapai tahap level ini.
Potensi yang dimiliki seseorang itu bukan sesuatu yang tiba-tiba atau jatuh dari langit datangnya. Seorang Brandon yang pintar breakdance bukan tiba-tiba bisa begitu saja. Sejak kecil ia terbiasa mendengar musik rancak yang memang memancing pendengarnya untuk bergerak. Bukan itu saja, Brandon juga sering melihat video yang berisi orang-orang dewasa sedang ‘dance’. Input dari musik dan tayangan ini memberi efek pada Brandon untuk menirukan gaya mereka. Di usia 3 tahun, ia sudah bisa menari perut meskipun di usia selanjutnya ia lebih tertarik pada gerakan breakdance.
Itu hanya satu contoh saja. Lingkungan yang membentuk ‘bakat’ seseorang. Kesempatan memperoleh orang tua yang mendukung pilihan anaknya adalah hal lain. Begitu juga faktor minat si anak juga menentukan apakah anak tersebut bisa disebut berbakat atau tidak. Tapi di atas semua itu, bakat yang ada seharusnya makin membuat nilai kemanusiaan kita bertambah di mata Allah. Karena kehidupan sekarang ini kan bukan segalanya. Materi juga akan ada habisnya. Cuma bekal yang baik saja sebagai teman menuju kehidupan abadi, akhirat yang kekal.
So, finally…
Bagi diri seorang muslim, ada standar yang harus diikuti olehnya yaitu apa kata hukum syara terhadap setiap perbuatan. Plus juga ada skala prioritas yang harus diingat. Entah berapa waktu yang dihabiskan oleh Brandon, Putri Ayu dan remaja-remaja lain yang ingin kaya dan terkenal dengan instant untuk melatih bakat mereka itu. Padahal masih banyak PR remaja yang harus segera dikerjakan agar negeri ini tidak terus terpuruk pada kubangan kenistaan karena ditinggalkannya syariat Islam.
Pada website resmi transTV sebagai penyelenggara acara Indonesia Mencari Bakat, tertulis tujuan bahwa program ini bisa menjadi sebuah kampanye untuk membangkitkan semangat anak bangsa, memotivasi setiap generasi, dan mendobrak pesimisme bangsa ini. Tapi saya pribadi sangat tidak yakin tujuan ini tercapai. Yang ada malah jutaan anak bangsa semakin hidup dalam dunia impian bisa ke Jakarta dan menjadi terkenal dengan cara instan. Anak bangsa yang terpinggirkan oleh sistem dan semakin pesimis menghadapi kehidupan.
Lihat saja, betapa banyak anak cerdas yang tak bisa sekolah. Padahal pendidikan adalah pintu gerbang luar biasa untuk memperbaiki taraf kehidupan. Bandingkan dengan mereka yang cuma goyang kanan dan kiri langsung dapat uang banyak. Karena memang faktanya di negeri ini, intelektualitas anak bangsa berharga jauh lebih murah daripada suara biduan dan akting para aktris. Jadi tujuan diselenggarakannya program pencarian bakat sejenis sebagaimana ditulis di atas, jauh panggang dari apinya, alias gatot (gagal total).
Tak bisa tidak kita kembali saja kepada aturan hidup yang memanusiakan manusia. Aturan hidup ini sudah teruji selama 14 abad menghasilkan anak-anak cemerlang yang berbakat dunia akhirat. Siapa tak kenal nama Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi dan masih banyak lagi talenta-talenta hebat yang membawa peradaban gemilang. Mereka paham dunia sebagai ilmuwan (fisika, astronomi, kedokteran, dll) dan paham akhirat sebagai ilmuwan juga (ulama). Keilmuwan mereka mencakup ilmu dunia dan akhirat. Belum pernah terdengar ada peradaban bangsa yang besar berawal dari pemudanya yang suka joget atau nyanyi. Itu mah, peradaban sampah!
Nah, tak usah bermimpi lagi ya sebagai the next idol dalam pencarian bakat anak bangsa ini. Menonton pun sekadarnya saja, sebagai upaya untuk memahamkan umat tentang tidak pentingnya acara beginian dalam kehidupan kamu. Bahkan bukan hanya acara ini saja, mayoritas acara di TV nasional kita adalah racun bagi jiwa dan otak kita.
So, ayo kita pakai saja audisi potensi anak Indonesia dan bahkan anak dunia dengan Islam sebagai tolok ukur aturan dan Allah sebagai tujuan. Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah aktivitasnya, bukan yang lain. Tentu, semuanya berdasarkan ajaran Islam dong ya. Gimana, setuju?

by : BA
10.44 | 0 komentar | Read More

Doa untuk Putraku

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 08 April 2011 | 08.09


Doa ini adalah bagian dari warisan spiritual Jendral Douglas MacArthur bagi anaknya. Ia menulis doa itu pada hari-hari pertama Perang Pasifik yang sangat berat baginya. Doa ini menurutku sangat bagus bagi seorang ayah untuk mendoakan anak nya, namun di sini ada sedikit yang saya rubah sebagai renungan para ayah untuk senantiasa selalu mendoakan putra dan putri nya dan selalu berharap kepada Allah SWT.


Doa untuk Putraku
Yaa Allah
Bentuklah putra dan putrikku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan, Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan. 

Bentuklah putra dan putriku ku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang putra dan putri yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan
Ya allah
Aku mohon, janganlah pimpin putra dan putriku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan
Biarkan putra dan putriku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya
Ajarilah mereka berhati tulus dan bercita-cita tinggi, menjadi imam buat dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk mejadi imam bagi orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra dan putri yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka
Putra dan putri yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya

Ya allah
Berilah mereka kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”





08.09 | 3 komentar | Read More

Bermain Bagi Anak-Anak Ada Tahapannya

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 07 April 2011 | 09.35


Bermain bagi anak-anak? Apalah gunanya.
Itu hanya sekedar pengisi waktu luang.
Tidak sedikit orang tua beranggapan demikian.
Padahal lewat aktivitas bermain, anak-anak dapat menguasai berbagai keterampilan fisik dan sosial serta dapat mengembangkan psikologi dan kepribadian secara sehat.

Banyak orang tua lupa atau mungkin tidak tahu bahwa bermain merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang anak, terutama usia balita dan usia sekolah. Gejala-gejala umum yang tampak terutama di kota-kota, anak-anak malah dijejali berbagai kegiatan, baik akademis maupun non akademis untuk mengejar prestasi.

Akibatnya banyak waktu anak-anak tersita untuk mengerjakan berbagai tugas sekolah maupun mengikuti beracam-macam les yang belum tentu mereka sukai. Si anak mungkin terpaksa melakukan untuk memenuhi ambisi orang tuanya. Padahal anak-anak perlu diberi kesempatan bermain dan berkreasi, yang tujuannya sama penting dengan belajar.

Bermain bagi anak-anak adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan atau kepuasan. Bermain bagi anak-anak merupakan kegiatan yang saling berkaitan dengan bekerja, karena bermain merupakan persiapan untuk bekerja. Bila mulanya kegiatan (bermain) dilakukan sekedar demi kesenangan, lambat laun dengan meningkatnya usia adanya respons sosial serta proses belajar yang diterima anak, kegiatan yang dilakukan selain untuk kesenangan juga untuk tujuan lainseperti, penghargaan, prestasi, kompetisi atau materi.

Peralihan kegiatan dari bermain menjadi bekerja memerlukan proses belajar. Belajar, proses yang diperolehnya keterampilan baru yang relative menetap dalam diri seseorangdan akan efektif jika dilakukan secara sistematis, terencana, diulang-ulang dan disertai reinforcement. Sehingga bermain bagi anak-anak juga perlu arahan orang tua/guru/orang dewasa lain yang diperoleh anak dalam segi afektif, kognitif maupun psikomotor, di samping unsur kesenangan.

Tahap Bermain Anak-Anak

Menurut para ahli psikologi, perkembangan bermain pada anak-anak akan diikuti perkembangan kognitif, sehingga akan terjadi perubahan kegiatan bermain dari bayi, anak, remaja sampai dewasa.

Secara psikologi, ada empat tahap dalam perkembangan bermain bagi anak-anak yang pembagiannya berdasarkan usia.
Tahap pertama, anak yang berusia antara 0 – 18 bulan atau 24 bulan. Pada tahap ini akan menggunakan reflex, kemampuan penginderaan dan keterampilan motorik yang sudah dikuasai untuk memperoleh pengetahuan serta keterampilan baru. Anak-anak perlu dirangsang untuk mengamati lingkungan sekitarnya dan mengambil inisiatif sendiri untuk menyenangkan diri mereka sendiri. Karea itu, kegiatan bermain bersifat bebas, spontan dan tidak ada aturan permainan. Kegiatan-kegiatannya antara lain berupa latihan menggunakan dan mempertajam penginderaan, meraih, menendang, memukul, merangkak dan menendang.

Tahap kedua, anak yang berusia antara 2 tahun – 6 tahun atau 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai mampu berpikir simbolik dan mampu berbicara untuk memahami lingkungannya. Cara berpikirnya masih terpusat pada diri sendiri dan anak masih belum mampu menerapkan hukum-hukum logika terhadap pengalaman dan pikirannya. Bila imajinasi anak bertambah, secara bertahap cara berpikir anak tidak lagi terpusat pada diri sendiri, sehingga sosialisasi dapat dikembangkan. Melalui bermain, anak-anak melatih diri untuk lebih menguasai gerakan motorik kasar dan halus, atau melakukan kegiatan berpikir seperti klasifikasi. Tata cara hidup di masyarakat seperti disiplin dan aturan-aturan sudah mulai dikenal.

Tahap ketiga, anak yang berusia antara 7 tahun – 11 tahun atau 12 tahun. Pada tahap ini kemampuan anak berpikir , mengingat dan berkomunikasi akan semakin baik karena anak telah berpikir lebih logis. Kegiatan bermain anak-anak pada tahap ini ditandai dengan social play. Anak mulai menaruh minat untuk bermain dengan teman-temannya dan tertarik pada mainan yang menggunakan aturan-aturan tertentu.

Tahap keempat, anak yang berusia 12 tahun ke atas. Pada tahap ini anak-anak sudah dapat berpikir abstrak, membuat hipotesa atau dugaan-dugaan secara lebih baik, tidak terlalu terikat pada hal-hal yang kongkrit. Pada usia 15 tahun, remaja mulai menaruh perhatian pada literature, dunia kerja dan mencari pemecahan persoalan-persoalan. Kegiatan bermain umumnya sama dengan tahap ketiga.

Manfaat dan Kendala

Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan bermain, sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang diperlukan untuk persiapan masa depan. Bermain antara lain membantu perkembangan tubuh, perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan kognitif dan moral serta kepribadian maupun bahasa. Bermain juga bisa dijadikan media untuk membina hubungan yang dekat antar anak, atau anak dengan orang tua/guru/orang dewasa lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Bermain bagi anak memang telah dipraktikkan dan diterapkan dalam kalangan pendidik, dengan hasil cukup memuaskan. Namun ada beberapa kendala dalam pelaksanaan cara belajar sambil bermain ini, antara lain tekanan orang tua yang beranggapan bahwa yang terpenting di Taman Kanak-Kanak adalah membaca, berhitung dan menulis, sedangkan bermain tidak ada gunanya.

Juga ada pendidik yang ragu-ragu melaksanakan bermain untuk belajar di dalam kelas, karena khawatir anak-anak menjadi tidak terkendali dan kelas menjadi kacau. Memang ada pendidik yang kurang atau tidak memahami tingkat atau masa perkembangan anak, sehingga tidak tahu batas mana yang dapat diterima dan dicerna anak.

Daerah pedesaan maupun perkotaan banyak sekali anak-anak yang miskin gagasan. Mereka ini kebanyakan anak yang tidak lepas dari gendongan orang tua/pembantu sehingga naluri anak untuk bereksplorasi atau menjajaki sekitarnya menjadi lambat atau tidak berkembang.

Berlimpahnya mainan bagi anak pun berbahaya, karena menimbulkan kebosanan. Gagasannya tidak tergugah atau tergelitik. Disarankan agar sebaiknya mainan dikeluarkan sedikit demi sedikit, dan anak-anak diberi dorongan untuk mengembangkan permainan yang dimilikinya.

Jangan Dipaksa

Jangan batasi keinginan anak untuk bermain, hanya karena jenis kelaminnya berbeda. Jangan risau pada seorang anak putra bermain boneka, bukankah kelak anak tersebut akan menjadi ayah? Juga bukankah anak-anak harus dipersiapkan untuk membuat pilihan-pilihan kelak?

Dalam bermain pada anak-anak hal yang paling mendasar harus dilakukan orang tua/pendidik adalah berbicara, mendorong, menunjukkan dan mencari variasi. Tema utama dalam bermain anak adalah sosial, emosional, kognitif dan motorik. Agar lewat kegiatan bermain ini, anak-anak mendapatkan 5A yaitu : affection (rasa dicintai), acceptance (rasa diterima) dan attention (perhatian dan perawatan) serta approval (kesempatan melakukan hal-hal yang disenangi) maupun appreciation (penghargaan yang tepat atas hasil kerja dan minat si anak).

Kegiatan bermain merupakan hal yang menyenangkan dan sekaligus merangsang pertumbuhan seluruh aspek perkembangan bayi dan anak. Bahwa sewajarnya kegiatan bermain tidak hanya dilihat sebagai suatu kekhasan dunia anak-anak, melainkan juga sebagai hak anak. Jangan merampas hak anak itu dan menjejalinya dengan ilmu pengetahuan demi ambisi orang tua.

oleh : BA

09.35 | 2 komentar | Read More