Bagi Para Pemuda Ahlussunnah Wal Jama'ah

Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 22 April 2011 | 08.07



Oleh :
Fadhilah asy-Syaikh
Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili
Hafizhahullahu
(Dosen Universitas Islam Madinah)
Penterjemah :
Ust. Muhammad Arifin Baderi, Lc, MA
Hafizhahullahu
نصيحة لشباب أهل السنة
Nasehat Bagi Para Pemuda Ahlis Sunnah
Penulis : Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili
Penterjemah : Ust. Muhammad Arifin Baderi, Lc, MA



بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du: 

Berikut ini adalah untaian nasehat yang ditujukan epada generasi muda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, yang dituliskan dalam rangka andil dalam menunaikan kewajiban menasehati kaum muslimin, dan mendamaikan antara Ahlis Sunnah, sebagaimana yang dianjurkan dalam banyak dalil.

Yang mendorong saya merangkaikan nasehat ini, adalah fenomena yang dialami oleh banyak pemuda salafiyyin, di berbagai negri islam, dan bahkan di negrinegri non islam, yang dihuni oleh minoritas islam, yaitu berupa perpecahan yang besar. Perpecahan yang disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat dalam beberapa masalah ilmiyyah, dan sikap-sikap kongkrit dalam menghadapi sebagian orang yang berseberangan (pendapat). 
Fenomena ini telah menghambat laju perjuangan dakwah menuju As Sunnah, dan bahkan menghalangi sebagian orang untuk mengikutinya. Padahal sebelumnya masyarakat umum diberbagai daerah dan negri , berbondong-bondong untuk mendalaminya.

Saya akan ringkaskan nasehat ini dalam beberapa poin berikut, dengan disertai harapan kepada Allah, agar kelimpahkan kepadaku keikhlasan niat, dan kebenaran dalam ucapan, serta memberikan manfaat kepada setiap orang muslim yang membacanya.

Pertama : Adalah termasuk salah satu prinsip yang ditetapkan dalam agama Islam, bahwa setiap orang muslim sebelum ia menyibukkan dirinya dengan (kekurangan) orang lain, hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh, membenahi diri, berupaya merealisasikan keselamatan, dan menjauhkan segala hal yang akan menyebabkan kebinasaan terhadap dirinya. Sebagaimana firman Allah :

والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا
بالحق وتواصوا بالصبر
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. 
(QS. Al Asher 1-3).

Allah memberitakan tentang orang-orang yang akan selamat dari kerugian, yaitu orang-orang yang terwujud pada dirinya perangai-perangai tersebut. Allah menyebutkan, bahwa mereka merealisasikan pada diri mereka keimanan, dan amal sholeh terlebih dahulu, sebelum mereka mendakwahi orang lain. Dakwah dengan nasehat-menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasehat menasehati upaya menetapi kesabaran. Sehingga ayat - ayat ini benar-benar telah menetapkan permasalahan ini. Dan Allah sungguh telah mencela Bani Isra’il, dikarenakan mereka menyelisihi prinsip ini, yaitu dengan
berfirman :

أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri,  padahal kamu membaca Alkitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir? 
(QS. Al Baqarah :44)

Oleh karena itu, hendaklah setiap pemuda senantiasa membenahi dirinya sendiri, sebelum berusaha membenahi orang lain, dan tatkala dirinya telah mencapai istiqomah (dalam kebaikan), kemudian ia menyatukan antara penerapan ajaran agama pada dirinya dengan perjuangan mendakwahi orang lain, maka ia benar-benar telah meniti metode dan petunjuk ulama’ salaf, dan Allah akan melimpahkan kemanfaatan dari (dakwah) nya. Dengan demikian mereka adalah para da’i menuju kepada As Sunnah, melalui ucapan dan perilakunya. Dan sungguh demi Allah, metode ini merupakan kedudukan paling agung, yang bila seseorang telah berhasil mencapainya, maka ia termasuk hamba Allah yang paling baik kedudukannya pada hari kiyamat. Allah Ta’ala berfirman :

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" 
(QS. Fusshilat:33)

Kedua : Hendaknya diketahui, bahwa yang benar-benar dikatakan sebagai Ahlis Sunnah adalah mereka yang menjalankan dengan sempurna (ajaran) agama islam, baik secara idiologi, ataupun perilaku. Dan merupakan kekurang pahaman, bila yang dianggap sebagai Ahlis Sunnah atau seorang Salafy, adalah orang yang merealisasikan Aqidah Ahlis Sunnah semata, tanpa memperdulikan segi perilaku, adab-adab yang sesuai dengan ajaran islam, dan menunaikan hak-hak sesama muslim.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah pada akhir kitab “Al Aqidah Al Wasithiyyah” berkata:
“Kemudian mereka (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), selain merealisasikan prinsip-prinsip ini: Saling memerintahkan dengan yang baik, dan  melarang dari yang mungkar, sesuai yang diajarkan dalam syari’at. 
Mereka menganjurkan untuk menunaikan ibadah haji, berjihad, mendirikan sholat jum’at, sholat ‘id, bersama para pemimpin, baik mereka adalah pemimpin yang baik (adil) ataupun pemimpin yang jahat. Mereka senantiasa menegakkan sholat berjama’ah, menjalankan tanggung jawab memberikan nasehat kepada ummat.
Mereka juga senantiasa meyakini makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

المؤمن للمؤمن كالبنيان المرصوص يشد بعضه بعضا

Artinya: “(permisalan peran) Seorang mukmin terhadap seorang mukmin lain, bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, yang sebagiannya menopang (menguatkan) sebagian lainnya”.

Tatkala ditimpa cobaan (kesusahan), mereka saling memerintahkan supaya menetapi kesabaran, dan tatkala mendapatkan kelapangan, saling memerintahkan untuk bersyukur, dan tatkala ditimpa takdir yang pahit, mereka saling memerintahkan untuk berlapang dada. Mereka senantiasa menyeru kepada akhlaq - akhlaq mulia, dan amal-amal terpuji. Mereka juga meyakini makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya”.

Mereka senantiasa menganjurkan, agar engkau menyambung (hubungan dengan) orang yang memutuskan hubungan denganmu, dan memberi orang yang enggan memberimu, memaafkan orang yang menzalimimu. Mereka juga saling memerintahkan untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, juga untuk bersilaturahmi, berbuat baik kepada tetangga.

Mereka juga senantiasa melarang dari perangai berbangga diri, sombong, melampaui batas, melanggar hak orang lain, baik dengan alasan yang dibenarkan atau tidak. Mereka senantiasa memerintahkan agar komitmen dan menjaga akhlaq terpuji dan mencegah dari akhlaq tercela. Dan setiap hal yang mereka ucapkan dan lakukan, baik dari hal-hal tersebut diatas, atau lainnya, mereka senantiasa mengikuti Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah, dan jalan hidup mereka adalah Agama islam yang dengannya Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam”.

Ketiga : Diantara tujuan agung yang dianjurkan agama islam (untuk dicapai), ialah: menunjuki manusia untuk menganut agama ini, sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, tatkala beliau mengutus  sahabat Ali ke Khaibar (yaitu pada saat perang Khaibar):

(لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النع م) أخرجه الشيخان،
.( البخاري، برقم: ( 4210 )، ومسلم برقم: ( 2406

Artinya : “Seandainya Allah memberi petunjuk denganmu seseorang saja, itu lebih baik bagimu dibanding (memiliki) unta merah”.
(HR Bukhory no:4210, dan Muslim 2406).

Oleh sebab itu, orang-orang yang telah mendapat karunia dari Allah, berupa hidayah (petunjuk) kepada (mengamalkan) As Sunnah, hendaknya bersungguh - sungguh dalam mendakwahi orang yang masih tersesat dari As Sunnah, atau kurang perhatian dengannya.
Mendakwahi mereka agar benar-benar merealisasikan As Sunnah. Hendaknya mereka menempuh segala daya dan upaya yang dapat ia lakukan, dalam menuntun manusia dan mendekatkan pintu hati mereka agar menerima kebenaran.

Hal itu dengan cara mendakwahi mereka dengan lemah lembut, sebagaimana firman Allah tatkala berbincang-bincang kepada Nabi Musa dan Harun :

. اذهبا إلى فرعون إنه طغا فقولا له قولا لينا

Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-katayang lemah lembut". 
(QS. Thaha: 43-44)

Hendaknya mereka memanggilnya dengan julukan - julukan yang sesuai dengan kedudukannya. Sebagaimana dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika menulis surat kepada Hiraql, dengan bersabda:

إلى هرقل عظيم الروم

Artinya: “kepada Hiraql, Pemimpin Romawi”.

Beliau juga memberikan kuniyyah kepada Abdillah bin Saba dengan “Abil Habbab”. Dan hendaknya mereka juga senantiasa bersabar dalam menghadapi kekerasan sikap orang yang didakwahi, dan membalasnya dengan perilaku baik, dan janganlah menuntut mereka untuk segera menerima kebenaran? 
Allah berfirman :

فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل لهم

Artinya: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul (ulul ‘Azmi) telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka”.

Keempat : Hendaknya para pelajar (Tholabatul Ilmi), terutama para da’i, dapat membedakan antara Al Mudarah dan Al Mudahanah. Karena Al Mudarah adalah suatu hal yang dianjurkan, yaitu: sikap lemah lembut dalam pergaulan, sebagaimana disebutkan dalam kitab “Lisanul ‘Arab”: “Bersikap Mudarah terhadap orang lain adalah dengan beramah-tamah kepada mereka, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh darimu”.(1) Sedangkan Al Mudahanah (menjilat) adalah sikap tercela, yaitu sikap (mengorbankan) agama, Allah berfirman :

ودوا لو تدهن فيدهنون

Artinya : Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. Al Qolam :9).

(1) Lisanul ‘Arab 14/255.

Al Hasan Al Bashry menafsirkan makna ayat ini dengan berkata: “Mereka menginginkan agar engkau berpura-pura dihadapan mereka, sehingga mereka juga akan berpura-pura pula dihadapanmu”. (Tafsir Al Baghowy 4/377).
-------
Dan sebetulnya Bagi Para Pemuda Ahlussunnah Wal Jama'ah masih sangat panjang untuk di tulis, dan saya tidak mungkin untuk menulis ulang di blog ini karena beberapa hal, diantaranya saya sangat mengkhawatirkan jika pembaca merasa jenuh juga karena tulisan yang begitu panjang. untuk bagi anda yang ingin membaca selengkapnya anda bisa download gratis di : http://www.ziddu.com/download/3171867/Ebook-NasehatSyaikhIbrahim.pdf.html.
tetapi saya lebih menyarankan untuk di download dan di teruskan membacanya karena ini sangat tanggung untuk di pelajari dan ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua. 

Ditulis oleh: 
Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily
Selesai ditulis di kota Madinah
pada tanggal 8/10/1424 H.

1 komentar:

Download Sholawatan dan pengajian mengatakan...

Berkunjung disini buat menambah ilmu

Posting Komentar

Berikan pendapat anda tentang posting kami... terimakasih.